Kenapa Sih Gamers Pada Kepingin Ingin Jadi Pro Player Esports?

“Bagaimana cara menjadi pro player?”

Coba deh ketik kata kunci itu di Google, ada 5 juta lebih hasil pencarian muncul di hadapan kamu. Menurut teori saya, banyaknya hasil pencarian itu disebabkan oleh dua hal.

Satu, mungkin “cara menjadi pro player” memang kata kunci primadona para gamers di Google. Dua, karena kata kuncinya jadi primadona, website penyedia berita pun harus menyediakan artikelnya supaya dapat perhatian dari kalian para gamers (Sejujurnya saya juga sih … maaf ya).

Tapi pertanyaan bagaimana biasanya punya jawaban yang begitu-begitu aja. Disuruh asah skill, ikut turnamen, ikut komunitas, bentuk tim, pokoknya cara-cara yang nulisnya gampang tapi praktiknya sulit.

Latihan keras! Ikut Turnamen! Itu adalah poin-poin yang kerap muncul kalau ditanya bagaimana caranya jadi pro player.

Karena melihat artikel-artikel itu, saya pun jadi berandai-andai. Bagaimana kalau pertanyaannya saya ubah jadi “kenapa?”

Kenapa banyak gamers ingin jadi pro player? Pertanyaan itu juga cenderung mudah saya jawab pakai analisa bisnis makro asal-asalan ala penulis sotoy dengan 4 tahun pengalaman mengamati perkembangan gaming dan esports.

Jawabannya begini: Developer game sadar kalau esports adalah strategi bagus untuk menjaga para gamers tetap bertahan di game buatan mereka, sambil memeras lebih banyak keuntungan. Kalau gamers-nya sih mungkin cuma korban keadaan aja, kebetulan ikut terhanyut ke dalam strategi bisnis yang dicekoki sang developer ke hadapan mereka.

Karenanya, di artikel ini saya kepingin mencoba bertanya sekali lagi pertanyaan yang sama kepada seluruh gamers yang kedapatan membaca artikel ini.

Kenapa kalian kepingin jadi pro player esports? Apakah karena passion? Atau karena atlet esports katanya punya pendapatan besar?

Daripada terus berandai-andai, mari coba kita mendiskusikan alasan-alasan tersebut di dalam artikel ini.

Siapa tahu, kalau jawabannya ketemu, siapa tahu akhirnya kita semua jadi lebih yakin memilih profesi atlet esports sebagai career goals.

Apakah Karena Passion?

Zaman sekarang, passion kerap menjadi hal yang dipromosikan sebagai kunci kesuksesan.

Pada satu sisi, kita patut bersyukur juga dengan hal itu. Kondisi itu bisa berarti bahwa ekonomi dunia sedang cukup baik sehingga kita punya keleluasaan memilih karier, termasuk dari kegiatan yang kita sukai.

Tapi, gamers juga harus berhati-hati karena mengejar passion bisa jadi jebakan kehidupan.

The Muse mengutip Andressen Horowitz yang merupakan salah satu investor Silicon Valley ternama sempat membahas alasan passion tidak bisa menjadi alasan kuat memilih karier.

Ada beberapa jawabannya. Pertama, passion itu dapat berubah-ubah, tergantung waktu, kondisi, atau kegiatan yang sedang jadi hobi kita.

Hari ini passion kita jadi atlet esports karena lagi hobi main game dan nonton esports. Besok, passion kita mungkin berubah ingin jadi penulis cerita dan seniman manga gara-gara One Piece chapter terbaru yang lagi seru-serunya.

Selain itu, passion kadang juga cuma terkait dengan rasa senang yang diciptakan oleh suatu kegiatan.

Passion main game dan ingin jadi atlet esports, bisa jadi hanya euforia sesaat setelah momen win-streak yang kita alami

Tapi bagaimana kalau mengalami lose-streak? Ikut turnamen tapi tidak pernah menang? Lamar tim sana-sini tapi tidak pernah diterima? Semangat membara jadi pro player mungkin akan berangsur meredup kalau kita menghadapi hal ini.

Kasus “jebakan passion” ini bukan cuma mitos. Kasusnya bahkan sempat terjadi pada pro player esports lokal. Contohnya itu ada REKT, pemain MLBB EVOS Legends yang kata Donkey ingin pensiun gara-gara enggak passion lagi menjadi seorang pro player.

Lalu kedua, terkadang kita juga tidak jago pada kegiatan yang jadi passion kita. Membahas hal itu, saya jadi ingin curcol pengalaman pribadi saya di artikel ini.

Dulu saya sempat passion ingin jadi pro player Dota 2. Passion itu muncul setelah menonton dokumenter esports Dota 2 berjudul Free To Play dari Valve.

Dendi, Hyhy, dan Fear pun menjadi panutan saya mengejar karier sebagai pro player Dota 2 setelah menonton dokumenter itu. Saya juga jadi semangat kejar MMR, coba-coba ikut turnamen, karena ingin jadi atlet esports.

Sayang nasib berkata lain. Saya agaknya memang tidak berbakat bermain Dota 2. Coba kejar rank, angka MMR 3k pun tak kunjung sampai walau berjam-jam saya habiskan untuk Dota 2. Coba ikut turnamen, hasilnya juga tak pernah memuaskan.

Akhirnya saya membulatkan tekad untuk move-on, mengubur cita-cita menjadi pro player Dota 2, dan kembali fokus kepada tujuan yang lebih nyata yaitu menyelesaikan skripsi saya yang ketika itu tak kunjung usai gara-gara kebelet mimpi jadi pro player Dota 2.

Lalu, apakah artinya kita harus melupakan passion dan cita-cita?

Tidak juga. Saya yakin generasi di bawah saya, para gamers dari Gen-Z, adalah manusia-manusia penuh semangat dan punya optimisme tinggi dalam mencapai mimpinya menjadi pro player esports.

Contoh passion dan semangat tinggi tersebut mungkin bisa kita lihat dari seorang Street, pro player Free Fire yang kini bermain untuk EVOS Esports.

Kita tidak bisa cuma mengandalkan passion jika ingin sukses. Passion itu cuma satu komponen dalam jalan kita menuju sukses yang fungsinya sebagai bahan bakar.

Konsistensi dan dedikasi adalah komponen lain yang justru lebih penting fungsinya dalam mencapai impian menjadi pro player. Konsisten untuk terus berjuang dan berdedikasi untuk disiplin serta belajar untuk jadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Passion tanpa dedikasi mungkin akan membuat kita menyerah ketika menghadapi tantangan berat. Masalahnya, semua perjuangan pasti akan berjalan berat karena tantangan serta masalah akan selalu ada.

Karenanya passion dengan konsistensi dan dedikasi akan membuat kita menjadi lebih tangguh menghadapi berbagai jalan terjal menuju impian yang ingin dicapai.

Boleh punya passion, tapi jangan sampai kita hidup susah gara-gara terkena jebakan passion.

Maksudnya, bukannya enggak boleh hidup susah buat ngejar passion. Boleh lah hidup susah asal progress karier kita jadi pro player itu terlihat.

Maksudnya progress karier sebagai pro player itu seperti rank game kita yang terus meningkat, mulai di-notice pro player karena skill kita jago, sampai akhirnya dapat tawaran dari tim profesional.

Tapi kalau misalnya kaya saya: Sudah MMR 3K tidak pernah sampai, ikut turnamen enggak pernah menang, lalu masih ngotot ingin jadi atlet esports, itu namanya bukan passion tapi ngeyel!

Kalaupun bapak saya Donald Trump yang hartanya berjuta-juta dollar, saya yakin kepala saya akan tetap dipentung kalau masih maksa ingin jadi Pro Player. Wong udah jelas enggak bakat di Dota 2, masih aja ngeyel kejar passion. Mendingan selesain tuh skripsi tong! Biar kagak jadi beban masyarakat amat!

Apakah Karena Sukses Materi yang Bisa Dicapai?

Selain karena passion, alasan lain gamers ingin jadi pro player esports mungkin adalah karena ingin mengubah (bukan merubah) nasib.

Pada akhirnya, siapa sih yang enggak ingin jadi kaya raya, populer, pokoknya jadi orang sukses deh.

Esports menawarkan impian sukses tersebut. Jadi, motivasi para gamers berkarier sebagai pro player karena ingin ubah nasib sebenarnya juga enggak bisa kita mungkiri.

Apalagi, akses anak muda terhadap game jadi semakin mudah di zaman sekarang ini.

Kondisi itu tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di belahan negara lain. Belahan negara itu adalah Korea Selatan, negara yang terkenal sebagai rajanya esports.

Korea Selatan punya kondisi serupa seperti Indonesia. Di Korea, banyak anak muda yang kejar karier jadi pro player esports karena ingin ubah nasib.

Awal mula kondisi tersebut terjadi pada awal perkembangan esports yaitu tahun 1997. Di tahun tersebut pemerintah Korea Selatan memutuskan investasi besar-besaran terhadap infrastruktur internet di tengah krisis ekonomi yang terjadi.

Supremasi Korea Selatan di game League of Legends merupakan salah satu bukti tumbuh suburnya budaya berain game serta tingginya keinginan pemainnya untuk jadi pro player berprestasi.

Mudah dan murahnya akses internet membuat warnet yang disebut “PC Bang” menjamur di Korea Selatan. Anak-anak muda beralih memilih gaming sebagai kegiatan pengisi waktu luang favorit, gara-gara mudah dan murahnya akses PC Bang. Berbarengan dengan hal tersebut, turnamen game (yang belum disebut esports) berhadiah puluhan juta won Korea juga bermunculan.

Akhirnya, anak muda di Korea Selatan yang bernama Kim-Jong *sebagian kata disensor* mungkin jadi mikir gini.

“Ah, daripada main game buat have fun cuma buang-buang waktu, uang, udah gitu kita (anak muda) jadi beban masyarakat pula! Mendingan main game secara kompetitif aja deh, supaya jadi juara dan dapat uang banyak, iye nggak sih?”

Fenomena di Indonesia pun serupa dengan cerita Korea Selatan, bedanya hanya pada alat yang kita gunakan untuk mengakses game.

Esports di Indonesia berkembang besar berkat perkembangan teknologi pengembangan game di smartphone, dari awalnya game mobile yang bersifat casual single-player, sampai sekarang berubah jadi game kompetitif multiplayer PvP.

Berbarengan dengan itu, persaingan pasar smartphone juga lagi ganas-ganasnya. Banyak HP murah bermunculan, spesifikasinya sudah mumpuni pula untuk main game esports.

Hasilnya? Esports game mobile tumbuh subur di nusantara. Para gamers berbondong-bondong ingin jadi pro player MLBB, Free Fire, atau PUBG Mobile supaya mereka bisa jadi orang sukses yang tajir nan populer.

Jadi, apakah impian menjadi pro player esports karena tujuan material adalah sesuatu yang salah?

Sah-sah saja kok. Tapi kita juga harus sadar, jangan sampai terjebak lagi dengan jebakan selanjutnya yaitu jebakan survivorship bias.

Kesuksesan sebagai pro player esports itu hanya dimiliki 1% orang saja.

Sukses sebagai atlet esports itu bukan sesederhana “main game lalu, dapat uang berjuta-juta”.

Pro player yang sukses saat ini adalah pemain yang berhasil merangkak dari kondisi tersulit sampai akhirnya jadi juara dan mencuat sebagai orang sukses yang digembar-gemborkan oleh media massa.

Kegagalan itu senyap gaungnya walau ada ratusan atau ribuan orang yang mengalaminya. Media tidak akan peduli dengan cerita orang yang gagal karena tidak menarik. Walaupun katanya “bad news is a good news”, tapi buat apa sih memberitakan cerita tidak seru seperti pengalaman saya menjadi pro player Dota 2 di atas?

Selain itu, sukses pun tidak instan jalannya. Pro player RRQ yang kata Pak AP digaji sekitar 200 juta rupiah itu mungkin pernah digaji kecil atau mungkin tidak digaji sebelumnya

Zuxxy dan Luxxy yang kini dipuja-puja sebagai salah satu pro player PUBG Mobile terbaik di dunia juga pernah diremehkan, dianggap bocil yang enggak jago.

Pada intinya, mengejar kesuksesan material dan popularitas itu tidak ada salahnya. Tapi jangan harap hal tersebut bisa kita dapatkan dengan instan. Ada yang namanya proses, yang lagi-lagi tetap butuh konsistensi dan dedikasi untuk bisa mencapainya.

Kesimpulannya ….

Sejujurnya saya sendiri agak kurang puas dengan penjelasan saya di artikel ini. Ujung-ujungnya artikel ini tetap jadi motivasi kosong yang ditutup dengan perintah kerja keras untuk mencapai impian.

Walaupun begitu, saya juga mencoba menyisipi fakta dan realita di tengahnya.

Harapannya sih supaya kita (Ya … kita maksudnya adalah teman teman semua selaku pembaca dan saya sebagai penulis) tetap membumi dengan kenyataan-kenyataan berupa: sekadar passion tidak cukup untuk mencapai sukses dan kesuksesan hampir tidak pernah bisa dicapai dengan mulus nan cepat.

Semoga impian kita semua bisa tercapai, termasuk kalian para gamers yang mungkin sedang berusaha keras agar bisa menjadi pro player pada game yang dimainkan.

Berbahagia dan kejarlah mimpi kalian semaksmal mungkin. Mumpung juga industri ini (esports) sedang mekar-mekarnya dan jalan menjadi pro player esports yang juga kini terbuka lebih lebar dengan beragam cara tersedia untuk mencapai kesuksesannya.

Sumber Gambar Utama – Esports Insider

More Stories
7 Fakta Bazz B-Bleach: Sahabat Jugram, Ingin Membunuh Yhwach?