REVIEW – Farlight 84, Battle Royale Biasa yang Beda Penampilan

Gara-Gara terus dicekoki iklannya, saya pun akhirnya mencoba memainkan Farlight 84. Temanya sih bikin tertarik karena terasa unik. Sayang, ada satu kelemahan yang membuat Farlight 84 jadi kurang menonjol.

Apa yang jadi kekurangan Farlight 84? Sabar dulu, nanti akan saya jelaskan. Sebenarnya Farlight 84 ini enggak jelek-jelek amat.

Konsep dan premis yang dijanjikan di awal sudah cukup menarik hati. Saat pertama kali mencoba, saya sih langsung menduga kalau game ini mungkin cuma PUBG Mobile yang beda wajah saja. Walaupun begitu, saya tetap penasaran.

Jadi, Farlight 84 itu bagus enggak sih? Kuy! Simak tulisan review saya yang satu ini!

Kloning Battle Royale Berpenyedap Rasa

Kalau ibarat makanan, Farlight 84 dengan Battle Royale lainnya itu seperti dua masakan sama yang dimasak oleh koki berbeda.

Walaupun dua masakan itu adalah masakan yang sama, tapi kokinya Farlight 84-si Lilith Games-nyoba nambahin micin dan penyedap rasa lainnya di masakannya, supaya masakan dia ada beda-bedanya dikit ketimbang Battle Royale lain.

Di mana kesamaan Farlight 84 dengan Battle Royale lain? Kesamaan itu sudah terasa sejak lobby awal game Farlight 84, yang penampilannya sampai tata letak tombol-tombolnya agak mirip-mirip dengan game-game Battle Royale lain seperti PUBG Mobile atau Free Fire.

Tapi, kemiripan tersebut luntur sedikit demi sedikit pas kita mulai masuk ke dalam game; walau beberapa elemen sebetulnya masih mirip juga.

Perbedaan paling jelas adalah gaya gambarnya. Gaya gambar Farlight 84 cenderung lebih kartun, tidak seperti Battle Royale lain yang cenderung realistis. Kalau dilihat-lihat, grafis Farlight 84 ini cenderung lebih mirip Fortnite ketimbang Battle Royale lain.

Informasi nama daerah yang muncul ketika kita akan terjun layaknya apa yang ada di PUBG New State.

Selain grafis in-game Farlight 84 juga menampilkan gaya gambar kartun tersebut di saat pemilihan karakter. Betul, Farlight 84 memungkinkan pemain memilih karakter sebelum mulai main. Setiap karakter juga punya kekuatannya masing-masing. Ada yang nambah kecepatan mobil, nambah kecepatan reload, pokoknya mirip-mirip Free Fire deh.

Terus ada juga perbedaan lain yang menurut saya keren, yaitu nama daerah medan pertempuran yang langsung kelihatan tanpa harus repot melihat map.

Developernya Farlight 84 mungkin sempet nyoba alpha test-nya PUBG New State waktu itu. Abis nyobain, Si Lilith Games mungkin jadi “terinspirasi” saat lihat PUBG New State bisa ngasih informasi ala AR buat nama tempat terjun. Karena terinspirasi, akhirnya dia terapin juga deh di Farlight 84.

Optimasi Grafis Kurang Bagus atau Karena Masih Beta?

Setelah kita ngomongin soal gaya gambar dan grafis secara umum, mari kita lanjut ke soal teknis.

Pertama dari segi teknis optimasi grafis. Saya memainkan Farlight 84 pakai setting low (supaya dapat 60 fps … hehe). Waktu di lobby sih masih dapat 40 fps-an. Tapi begitu terjun ke dalam pertempuran, enggak tahu kenapa fps-nya drop drastis banget; bahkan sampai freeze kadang-kadang.

Sebetulnya, saya juga kurang tahu penyebab kejadian itu. Bisa jadi bukan karena optimasi gamenya, tapi karena HP saya yang jadul.

Pengaturan grafis di dalam Farlight 84 yang sangat minimalistik.

Maklum, saya main pakai Pocophone F1, hp rilisan tahun 2018. Yaaa … prosesor HP itu sebenarnya Snapdragon 845. Tapi enggak tahu kenapa HP ini sering sekali frame drop kalau main game apa pun. Jadi kesal saya dibuatnya (loh kok curcol).

Walaupun jadul, HP Pocophone F1 itu sebenarnya masih lancar memainkan PUBG Mobile pakai setingan smooth-extreme loh. Makanya jadi agak heran ketika HP saya malah kedodoran saat mencoba Farlight 84 yang kelihatannya lebih enteng.

Tapi keheranan saya tadi akhirnya terjawab. Setelah mencoba menelusuri ke sana dan sini, saya menemukan kalau Farlight 84 ini ternyata memang masih beta, walau sudah bisa di-download di Play Store.

Karena masih beta, saya jadi merasa wajar kalau ada masalah-masalah di game ini, seperti frame drop, bug, glitch dan lain sebagainya. Untungnya setelah satu kali update, game ini jadi berjalan lebih lancar dari sebelumnya.

Ragam Mekanisme Menarik yang Terasa Seperti Gimmick?

Jujur aja, sebetulnya enggak ada hal yang terlalu menarik kalau ngomongin gameplay si Farlight 84.

Secara umum, yaaa … kaya Battle Royale biasanya.

Terjun, nge-loot, tembak-tembakan di awal terus sisanya tinggal bengong nunggu sampai circle terakhir. Sambil nunggu atau jalan ke circle, kita bisa tembak-tembakin bot yang bentuknya robot dan zombie di dalam game ini.

Minimal, di game ini kita tahu kalau ada musuh berbentuk orang sudah pasti pemain asli karena bot bentuknya zombie dan robot.

Terus kalau sudah sampai circle terakhir, biasanya kita tinggal tunggu aja kena culik pemain yang ngendok tapi ngintip pakai kamera TPP.

Ada si beda-bedanya, tapi saya merasa perbedaannya enggak terlalu berdampak signifikan pada pengalaman permainan. Pengalaman mainnya tetap terasa sama seperti Battle Royale yang lainnya.

Apa saja perbedaan tersebut? Pertama, ada jetpack yang membuat mobilitas pemain lebih tinggi. Kita jadi bisa manjat gedung satu lantai dengan mudah pakai fitur yang satu ini.

Perbedaan kedua, ada juga jump pad. Jump pad biasanya ada di dekat bangunan yang punya posisi high ground strategis. Kita akan terlontar tinggi saat menginjak si jump pad, sehingga bisa mendarat di bagian high ground tersebut.

Perbedaan ketiga adalah kendaraan-kendaraan di Farlight 84. Kebanyakan kendaraan di Farlight 84 adalah tipe kendaraan tempur yang punya senjata uniknya masing-masing.

Salah satu yang saya suka adalah kendaraan yang bentuknya seperti laba-laba dan bisa menembakkan meriam laser. Kendaraan itu jadi menarik karena kita bisa menembakkan laser walaupun kita adalah seorang pengendara.

Beberapa kendaraan lain juga punya senjata khusus, tapi biasanya yang bisa menembakkan senjata itu adalah penumpang.

Secara umum, Farlight 84 memang tergolong seru untuk dimainkan secara santai dan barbar. Apalagi game ini juga menyertakan fitur aim-assist dan auto-fire (betul, kita bisa menembak musuh hanya dengan mengarahkan crosshair saja).

Kesimpulannya

Sebetulnya, salah satu hal yang bikin saya tertarik dengan Farlight 84 adalah karena gaya gambarnya.

Grafis game ala kartun serta art bergaya ala game Borderland ini lumayan bikin saya kena hook, sampai akhirnya jadi download, main, dan malah sampai bikin review-nya.

Saya sih enggak terlalu protes dengan masalah optimasi grafisnya. Toh, game ini memang masih dalam fase beta juga.

Satu hal yang mengganjal sebenarnya cuma karena minimnya inovasi dari gameplay si Farlight 84 ini.

Iya sih, memang ada elemen-eleman baru seperti jetpack, jump pad, dan kendaraan-kendaraan perang yang unik. Tapi secara umum, pengalaman main Farlight 84 itu rasanya sama saja dengan game Battle Royale lainnya.

Alhasil, semua elemen tambahan itu jadi terasa seperti gimmick atau bumbu penyedap saja, seperti yang saya sebut di awal.

Kalau pendapat saya sih, Farlight 84 butuh inovasi yang lebih mendobrak kalau memang ingin menarik perhatian para pecinta Battle Royale di luar sana.

Jadi, dengan sangat berat hati saya cuma bisa kasih skor 3 bintang saja untuk Farlight 84.

3 bintang bukan berarti jelek. Hanya saja game ini tergolong terlalu biasa aja untuk bisa bersaing di tengah pasar genre Battle Royale yang sudah terlalu padat penduduknya.

Pada akhirnya saya merasa, Farlight 84 mungkin cuma akan jadi alternatif saja kalau kita lagi bosan dengan Battle Royale lainnya.

More Stories
Timnas Indonesia IESF MLBB
Timnas Mobile Legends Indonesia ke Grand Final IESF MLBB 2022